Sebelum kami menikah, suamiku selalu mengatakan bahwa ibunya agak
penuntut. Dia berharap saya mengetahui masalah sensitif ini, karena
setelah menikah, kami akan tinggal bersama orangtuanya.
Bahwa jika aku mengatakan sesuatu, meskipun itu benar, dan bahkan mertua yang salah, jangan banyak menanggapi, itu hanya akan menyebabkan lebih banyak ketegangan.
Saat itu aku berpikir, mudah saja, setelah menikah saya akan baik dengan ibu mertua, maka pasti tidak akan ada masalah.
Namun setelah memiliki anak, tentu saja akan banyak menghabiskan banyak waktu dan tenaga, serta banyak hal baru dalam keluarga yang juga perlu diperhatikan.
Misalnya, setelah melahirkan, saya juga harus merawat anak selain melakukan pekerjaan rumah tangga, karena keadaan ekonomi keluarga tidak memungkinkan kami untuk menyewa seorang pengasuh.
Dan tidak memungkinkan untuk meminta bantuan ibu kandungku, karena adikku masih bersekolah, ayahku juga seorang bekerja, segala urusan rumah adalah ibu yang mengurus, pasti ibu tidak bisa keluar rumah.
Mungkin nenek yang bisa membantu, aku bisa mengirim anak saya ke rumah nenek, tapi rumah nenek terlalu jauh.
Sebenarnya, aku ingin meminta bantuan pada ibu mertua, tapi dia langsung menolak . “Jangan pikir saya akan merawatnya, saya memiliki lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, saya sangat sibuk,” kata ibu mertua
Sebenarnya ibu mertuaku tidak terlalu sibuk, tapi dia tidak mau, jadi aku tidak bisa memaksanya.
Aku berbicara dengan suamiku bahw aku akan berhenti bekerja dan merawat anak sampai dia berusia dua atau tiga tahun, menunggu sampai anak ini bisa dititipkan ke tempat penitipan dan kemudian aku kembali bekerja, karena aku punya keahlian sebagai akuntan, jadi aku tidak akan bekerja terlalu berat.
Bayiku baru berumur kurang dari empat bulan, ibu mertua semakin jarang membantu mengurus cucunya, dan dia makin acuh tak acuh.
Sebetulnya, aku juga lelah mengurus anak, ibu mertua melihat aku tidak lagi bekerja di luar dan hanya menghabiskan waktu di rumah, dia tidak puas, sepanjang hari dia terus membuat alasan untuk memarahiku, aku hanya berpura-pura tidak mendengarnya.
Minggu lalu, ibu kandungku berulang tahun yang ke 50 tahun, dan aku terlalu sibuk sampai melupakannya, kakakku harus menelepon untuk mengingatkanku.
Setelah menelepon, aku merasa sedih, keluargaku tidak kaya, orangtuaku berjuang keras untuk membiayai kuliah anak-anaknya sampai tamat, dan mencari biaya untuk pernikahan anak-anaknya, tapi aku malah terlalu sibuk, aku tidak punya waktu dan bahkan lupa untuk memikirkan orangtua.
Lantas aku membelikan kalung dan kemudian mengirim kado itu beserta ucapan selamat ulang tahun kepada ibuku.
Setelah ibu mertuaku tahu, dia sangat kesal, dia langsung menunjuk mukaku dan berkata, “Sekarang kamu tidak dapat menghasilkan uang, anakmu masih kecil, malah membeli barang mahal, kamu berani mengambil uang anak saya untuk membelikan barang mewah untuk ibu kandungmu. Apa bedanya kamu dengan pencuri? ”
Kata-katanya benar-benar membuatku marah, sekarang aku tidak bekerja, tapi ini bukan karena aku malas.
“Uang untuk membeli hadiah kalung itu adalah uangku sendiri, uang jatah untuk membeli susu anak sama sekali tidak aku gunakan, mengapa ibu bilang saya adalah seorang pencuri, saya hanya ingin berbakti kepada ibu kandung menggunakan uang sendiri, apakah saya salah?”
Saat itu, saya sangat marah. “Jika ibu berpikir begitu, maka selanjutnya beritahu semua anak kandung ibu untuk tidak membawa hadiah, jangan biarkan anak-anakmu menjadi pencuri!”
Ibu mertua saya tiba-tiba terengah-engah, mendengar saya berkata begitu tiba-tiba dia hanya bisa diam.
Suami saya kemudian mengeluh kepada saya: “Sayang, ibu menangis hampir dua jam, dia mengatakan bahwa sekarang dia sudah tidak dihargai lagi sebagai seorang ibu. Dapatkah kamu sedikit bersabar? Jangan ambil pusing dengan ucapannya, nanti juga dia akan berhenti marah-marah sendiri …”
“Saya tidak ingin mendengar, saya hanya meminta dia untuk menyuruh anak-anaknya melakukan hal yang sama kepadanya, seperti yang dia suruh saya lakukan kepada ibu kandung saya, apa yang salah?”
Tentu saja sepantasnya seorang menantu menghormati ibu mertua, tapi dalam kasus ini ada sesuatu yang tidak nyaman, yang jika dibiarkan berlarut-larut tanpa diungkapkan, maka suatu saat akan menjadi masalah besar.
Terkadang saat perselisihan keluarga terjadi, itu bukan karena ibunya, tapi karena suaminya tidak pandai.
Sebenarnya wanita sangat sensitif, akan lebih mudah marah dan menggunakan perasaan. Sang istri tidak membutuhkan suaminya sebagai hakim, menilai siapa yang benar dan siapa yang salah.
Ajak bicara, dengarkan, tidak memihak, dan belajar memahami wanita, itulah cara terpenting untuk menjaga keluarga tetap bahagia dan utuh. Menjadi suami yang pandai dan bertanggung jawab akan tahu bagaimana mendamaikan hubungan antara ibu mertua dan istri.
Suami harus mengerti hubungan antara suami dan istri, bagaimana menikah, maka tidak ada istilah milikku atau atau milikmu, semua adalah milik kita bersama.
Jika ibu mertua mengatakan bahwa menantu perempuannya tidak baik, suami seharusnya tidak langsung berpikir, “Oh, istriku, apa yang salah denganmu?”
Istrimu datang dari luar ke tempat baru di rumahmu untuk melakukan hal yang sulit, butuh pengertian, tanyalah juga apa yang salah dengan ibumu?
Terkadang keadaan istri seperti itu sulit diucapkan dan sangat membutuhkan simpati dari suaminya.
Padahal, jika suami memandang ibu dan istri sama pentingnya, membantu istrinya mengerjakan pekerjaan rumah tangga, menyeimbangkan emosi antara ibu dan istrinya, kehidupan keluarga itu pasti akan bisa berjalan baik.(asm/yant)
Bahwa jika aku mengatakan sesuatu, meskipun itu benar, dan bahkan mertua yang salah, jangan banyak menanggapi, itu hanya akan menyebabkan lebih banyak ketegangan.
Saat itu aku berpikir, mudah saja, setelah menikah saya akan baik dengan ibu mertua, maka pasti tidak akan ada masalah.
Namun setelah memiliki anak, tentu saja akan banyak menghabiskan banyak waktu dan tenaga, serta banyak hal baru dalam keluarga yang juga perlu diperhatikan.
Misalnya, setelah melahirkan, saya juga harus merawat anak selain melakukan pekerjaan rumah tangga, karena keadaan ekonomi keluarga tidak memungkinkan kami untuk menyewa seorang pengasuh.
Dan tidak memungkinkan untuk meminta bantuan ibu kandungku, karena adikku masih bersekolah, ayahku juga seorang bekerja, segala urusan rumah adalah ibu yang mengurus, pasti ibu tidak bisa keluar rumah.
Mungkin nenek yang bisa membantu, aku bisa mengirim anak saya ke rumah nenek, tapi rumah nenek terlalu jauh.
Sebenarnya, aku ingin meminta bantuan pada ibu mertua, tapi dia langsung menolak . “Jangan pikir saya akan merawatnya, saya memiliki lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, saya sangat sibuk,” kata ibu mertua
Sebenarnya ibu mertuaku tidak terlalu sibuk, tapi dia tidak mau, jadi aku tidak bisa memaksanya.
Aku berbicara dengan suamiku bahw aku akan berhenti bekerja dan merawat anak sampai dia berusia dua atau tiga tahun, menunggu sampai anak ini bisa dititipkan ke tempat penitipan dan kemudian aku kembali bekerja, karena aku punya keahlian sebagai akuntan, jadi aku tidak akan bekerja terlalu berat.
Bayiku baru berumur kurang dari empat bulan, ibu mertua semakin jarang membantu mengurus cucunya, dan dia makin acuh tak acuh.
Sebetulnya, aku juga lelah mengurus anak, ibu mertua melihat aku tidak lagi bekerja di luar dan hanya menghabiskan waktu di rumah, dia tidak puas, sepanjang hari dia terus membuat alasan untuk memarahiku, aku hanya berpura-pura tidak mendengarnya.
Minggu lalu, ibu kandungku berulang tahun yang ke 50 tahun, dan aku terlalu sibuk sampai melupakannya, kakakku harus menelepon untuk mengingatkanku.
Setelah menelepon, aku merasa sedih, keluargaku tidak kaya, orangtuaku berjuang keras untuk membiayai kuliah anak-anaknya sampai tamat, dan mencari biaya untuk pernikahan anak-anaknya, tapi aku malah terlalu sibuk, aku tidak punya waktu dan bahkan lupa untuk memikirkan orangtua.
Lantas aku membelikan kalung dan kemudian mengirim kado itu beserta ucapan selamat ulang tahun kepada ibuku.
Setelah ibu mertuaku tahu, dia sangat kesal, dia langsung menunjuk mukaku dan berkata, “Sekarang kamu tidak dapat menghasilkan uang, anakmu masih kecil, malah membeli barang mahal, kamu berani mengambil uang anak saya untuk membelikan barang mewah untuk ibu kandungmu. Apa bedanya kamu dengan pencuri? ”
Kata-katanya benar-benar membuatku marah, sekarang aku tidak bekerja, tapi ini bukan karena aku malas.
“Uang untuk membeli hadiah kalung itu adalah uangku sendiri, uang jatah untuk membeli susu anak sama sekali tidak aku gunakan, mengapa ibu bilang saya adalah seorang pencuri, saya hanya ingin berbakti kepada ibu kandung menggunakan uang sendiri, apakah saya salah?”
Saat itu, saya sangat marah. “Jika ibu berpikir begitu, maka selanjutnya beritahu semua anak kandung ibu untuk tidak membawa hadiah, jangan biarkan anak-anakmu menjadi pencuri!”
Ibu mertua saya tiba-tiba terengah-engah, mendengar saya berkata begitu tiba-tiba dia hanya bisa diam.
Suami saya kemudian mengeluh kepada saya: “Sayang, ibu menangis hampir dua jam, dia mengatakan bahwa sekarang dia sudah tidak dihargai lagi sebagai seorang ibu. Dapatkah kamu sedikit bersabar? Jangan ambil pusing dengan ucapannya, nanti juga dia akan berhenti marah-marah sendiri …”
“Saya tidak ingin mendengar, saya hanya meminta dia untuk menyuruh anak-anaknya melakukan hal yang sama kepadanya, seperti yang dia suruh saya lakukan kepada ibu kandung saya, apa yang salah?”
Tentu saja sepantasnya seorang menantu menghormati ibu mertua, tapi dalam kasus ini ada sesuatu yang tidak nyaman, yang jika dibiarkan berlarut-larut tanpa diungkapkan, maka suatu saat akan menjadi masalah besar.
Terkadang saat perselisihan keluarga terjadi, itu bukan karena ibunya, tapi karena suaminya tidak pandai.
Sebenarnya wanita sangat sensitif, akan lebih mudah marah dan menggunakan perasaan. Sang istri tidak membutuhkan suaminya sebagai hakim, menilai siapa yang benar dan siapa yang salah.
Ajak bicara, dengarkan, tidak memihak, dan belajar memahami wanita, itulah cara terpenting untuk menjaga keluarga tetap bahagia dan utuh. Menjadi suami yang pandai dan bertanggung jawab akan tahu bagaimana mendamaikan hubungan antara ibu mertua dan istri.
Suami harus mengerti hubungan antara suami dan istri, bagaimana menikah, maka tidak ada istilah milikku atau atau milikmu, semua adalah milik kita bersama.
Jika ibu mertua mengatakan bahwa menantu perempuannya tidak baik, suami seharusnya tidak langsung berpikir, “Oh, istriku, apa yang salah denganmu?”
Istrimu datang dari luar ke tempat baru di rumahmu untuk melakukan hal yang sulit, butuh pengertian, tanyalah juga apa yang salah dengan ibumu?
Terkadang keadaan istri seperti itu sulit diucapkan dan sangat membutuhkan simpati dari suaminya.
Padahal, jika suami memandang ibu dan istri sama pentingnya, membantu istrinya mengerjakan pekerjaan rumah tangga, menyeimbangkan emosi antara ibu dan istrinya, kehidupan keluarga itu pasti akan bisa berjalan baik.(asm/yant)